saia kok mulai muak, sebal, ilfil, sama iang namania sekolah.
loh! kau juga ?
aneh ia. padahal saia ini cintaaa belajar. maksudnia, begitu ke perpustakaan kota, trus menarik buku-buku “fisika kuantum”. “5 masalah terbesar sains yang belum terpecahkan”, “mania fisika”, hati saia berbunga bunga. Sains itu kereeeeen!!!
tapi, kebaniakan. temen temen saia pasang tampang jijay duluan waktu disodori those cool books. Mereka sudah terserang ilfil stadium infinity akan iang namanya Fisika, Kimia, Matematika, Astronomi, pokoknia sains. Ga perlu saia abisin 3 line untuk beritahu anda kenapa. Sudah clear kaia kaca jendela, infeksi virus endemi “Ngejar nilai”sudah mewabah.
Buat apa sih belajar fisika, kimia, mat, biologi? ia biar ga remidi. ia biar ujian nasional bagus. biar nilai rapor bikin mama papa bangga… Akibatnia? contek contekan membudaia. cara apapun dihalalkan asal angka angka itu tetep biru. sampai ada sekolah iang dipasang CCTV tiap kelas
Sekolah nan suckas ini menutupi sinar keajaiban sains dalam lumpur “nilai“. Ilmu ilmu iang menyihir Einstein, Boyle, Newton, Dalton, Curie sekarang sudah kehilangan tuahnia di mata anak anak sekolah.
Science is nightmare. Science sucks. 
padahal ilmu pengetahuan itu kekuatan.
Knowledge is power! Science is power!
Gimana carania Singapura, negara satu pulau iang cuma 1/4 luas jawa timur, bisa mengontrol perdagangan dunia, jauh lebih maju daripada 15 ribu ++ pulau Indonesia? berapa sih sumber daia alam di bawah tanah Uni Eropa, dibandingkan indonesia? Dua ratus juta penduduk indonesia, berapa baniak iang bisa tembus Nobel prize? bandingkan sama Jerman dan Swiss iang sempit amat itu?
Science rules, mannn!!
Berani saia niatakan: sekolah membunuh pendidikan. tahu apa artinia, anak anak pengejar nilai ini? mereka mengejar materi. mengejar titel. secara langsung sekolah men”didik” gaia hidup materialistis dan hedonis. Perhatikan persaingan merek motor plus tipe mobil di halaman parkir. Perhatikan merek merek tas mahal iang menjadi simbol status.
Bersambung… (kaia sinetron aja)
Featured : this is the best counterschool site ever



masalahnya mungkin sederhana, sering kali pihak perusahaan yang dilihat untuk pertama kali adalah nilai bukan kemampuan karyawan.
hmm..bukannia iang berpengaruh besar itu tes wawancara ? itu diberitahu guru bantu kimia iang sekarang jadi peneliti sih…
eniwei , situs anda keren sekali, programer ia ? salam kenal ^^
mbak sau! akhirnya posting juga… hehehehe
berkat dukungan moral darimu juga rist … ckakakak
Prinsip sekolah : “selama nilaimu tidak mencukupi, ilmumu tidak ada gunanya…”
@mas Peduli pendidikan : Setuju kok! emang yang ngaruh tu wawancara, tapi kalo yang testingnya bertahap?
ama aja. harus ngejar ‘nilai’ juga.
hal-nya gak sesimpel itu. Kalo dari gw nya sih ngeliat kita nya sebagai pelajar juga terlalu dituntut. pelajaran bertumpuk bgt padahal waktu yg dikasihnya terbatas. yang ngasih soal ujian juga tau masih ada sekolah yang acaranya cuma pagi atau siang karena kekurangan kelas. tapi liat aja mapelnya bejibun.
Jelas ngejar ilmu dunk..!!!
sekolah sarangnya dosa hha
bagus loh! aku setuju tapi kurang ngena! masalah pendidikan kita bukan itu aja. ayo ulas lagi, ulas lagi! biar kita lihat semuanya.
btw, sau (kok panggilannya aneh ya) ngambil kuliah apa dan dimana? zzz
gw dulu sekolah ngejar nilai..wekekekekek..
hahahaha anda juga gregetan sama sistem pendidikan endonesa ia